Menggugat Moralitas Perang di Era Modern

oleh -5 Dilihat

Sulit dibayangkan dan dirasakan, warga sipil yang tak berdosa dan tidak mengerti tentang pertarungan politik kuasa hilang nyawanya dalam sekejap.

Serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran telah menjadi teater baru yang menyedihkan dan memprihatinkan buat kita sebagai manusia.

Ratusan anak-anak sekolah di Iran meninggal dalam serangan pertama AS-Israel ke Iran. Begitu pula sebaliknya, warga sipil di Israel menjadi bagian dari korban peperangan.

Sulit dibayangkan dan dirasakan, warga sipil yang tak berdosa dan tidak mengerti tentang pertarungan politik kuasa hilang nyawanya dalam sekejap. Rasa marah, benci, dan muak terasa ketika membaca dan mendengar informasi tentang perang itu.

Kenapa harus mereka yang menjadi korban perang? Kenapa bukan Donald Trump dan Netanyahu yang memulai perang? Perang pada akhirnya hanya menjadi kemenangan bagi mereka yang pengecut/pecundang dan mengakibatkan kematian bagi mereka yang tak berdosa. Pertanyaannya, apakah tidak ada perang yang adil (just war) ataukah memang perang bersifat kotor sehingga kemanusiaan harus dikalahkan demi sebuah kemenangan?

Dalam sejarah panjang umat manusia, perang menjadi sebuah dimensi yang membayangi kehidupan. Perang merupakan kelanjutan politik dengan cara-cara lain sehingga hasrat dan ambisi berkuasa untuk menguasai menjadi soal pokok yang mengakibatkan perang.

Di masa imperialisme dan kolonialisme dulu, slogan gold, gospel, dan glory menjadi tujuan utama para penjajah dalam menaklukkan negara jajahannya. Imperialisme dan kolonialisme berkembang dalam beragam peperangan dengan tujuan menguasai, menaklukkan, dan menduduki demi kendali kuasa.

Apa yang terjadi kemudian? Tragedi kemanusiaan demi tragedi kemanusiaan terjadi, mulai dari masa klasik dulu hingga pembantaian pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Kita tertegun lesu melihat, mendengar, dan membaca pembantaian terhadap manusia yang terjadi selama perang itu. Bahkan, di Jerman, kejahatan kemanusiaan yang diakibatkan perang diabadikan sebagai monumen untuk mengingatkan manusia agar tidak lupa kekejian perang saat itu.

Menolak imperialisme

Bangsa Indonesia juga mengalami pahit dan kejamnya imperialisme dan kolonialisme yang diwarnai dengan berbagai peperangan yang terjadi sebelum ataupun setelah Indonesia merdeka. Perlawanan rakyat kepada penjajah di Indonesia mengakibatkan kematian, pembantaian, penyiksaan yang pedih bagi bangsa ini. Perempuan dan anak-anak sering kali menjadi korban kejamnya peperangan. Jugun ianfu adalah salah satu tragedi yang akan selalu kita ingat.

Dalam jalan sejarah yang kejam itu, para pendiri bangsa berkomitmen untuk menolak segala bentuk penjajahan dan menyuarakan pentingnya perdamaian, sebagaimana dituangkan dalam pembukaan konstitusi Indonesia. Tidak ada pengecualian bagi bangsa ini terhadap segala bentuk penjajahan. Dengan kata lain, segala bentuk penjajahan harus dikecam dan dikutuk. Setiap negara perlu dan harus menghormati kedaulatan dan kemerdekaan negara lain. Itulah etika yang perlu dijaga dalam kehidupan perdamaian di dunia.

Perang Modern Tidak Selalu Dimulai dengan Ledakan

Perang modern tidak selalu dimulai dengan ledakan. Perang bisa dimulai jauh sebelumnya, dalam senyap, di infrastruktur sipil yang tidak pernah kita bayangkan.

Baca Artikel
Sebagai sebuah bangsa merdeka, tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa serangan yang dilakukan AS-Israel ke Iran adalah hal yang dapat dibenarkan. Justru sebaliknya, tindakan AS-Israel menyerang Iran adalah tindakan agresi yang tidak dapat dibenarkan dengan dalih dan alasan apa pun. Tindakan itu merupakan sebuah bentuk pelanggaran hukum internasional/Piagam PBB. Pasal 2 Ayat (4) Piagam PBB menyebutkan bahwa ”Semua anggota harus menahan diri dalam hubungan internasional mereka dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik setiap negara atau dengan cara lain tidak konsisten dengan tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa”.

Dalam konteks perang AS-Israel dengan Iran, cara-cara dalam perang yang adil tak lagi diindahkan. Justru yang terjadi adalah cara-cara yang kotor dan brutal menyasar warga sipil. Kematian anak-anak di sekolah di Iran pada serangan pertama oleh AS-Israel jelas tidak bisa dibenarkan dengan dalih dan alasan apa pun. Dalam hal ini, Netanyahu dan Trump dapat dianggap sebagai penjahat perang karena telah menjadi pemimpin yang memerintahkan serangan tersebut hingga terjadi.

Menurut Sun Tzu, ahli strategi perang China, strategi dan kemenangan tertinggi adalah ketika seseorang mampu mengalahkan lawannya tanpa harus menyentuh atau berperang secara langsung dengan musuhnya. Sebaliknya, strategi yang paling buruk adalah ketika kemenangan diraih dengan cara menghancurkan musuh secara total, dengan meratakan dan membumihanguskan seluruh wilayah lawan, baik manusia maupun infrastrukturnya. Gambaran ini tampaknya tecermin dalam konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran. Jika strategi terburuk sebagaimana digambarkan oleh Sun Tzu benar-benar terjadi dalam konteks konflik tersebut, maka dunia seolah kembali mundur jauh ke belakang, karena pembantaian dan kehancuran akan menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Dalam situasi dunia yang penuh konflik seperti saat ini, penolakan masyarakat terhadap perang harus terus disuarakan setiap hari. Seruan ”stop war” dan menolak segala bentuk imperialisme perlu digemakan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Suara masyarakat merupakan tekanan moral bagi para pemimpin dan pemerintah untuk menyerukan penghentian peperangan yang sedang terjadi.

Percayalah, perang tidak akan menghasilkan apa pun selain luka, kehancuran, dan korban jiwa. Karena itu, upaya untuk menolak perang dan memperjuangkan perdamaian harus terus dilakukan. Stop war dan tolak imperialisme.

Al Araf, Peneliti Senior Imparsial dan Ketua Centra Initiative

Versi cetak/epaper artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Maret 2026 di halaman 6 dengan judul “Perang yang Kotor”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.